KAJIAN PERMASALAHAN, KEBUTUHAN DAN POTENSI PENGEMBANGAN PETERNAKAN PADA KAWASAN AGRO-EKOLOGI TAMBRAUW, PAPUA BARAT

Deny Anjelus Iyai, Meky Sagrim

Abstract

ABSTRAK

Produksi pertanian yang dihasilkan belum dihasilkan dari produksi potensial. Produksi yang dihasilkan masih produksi minimal yang sebenarnya dapat ditingkatkan secara maksimal. Keterbatasan dijumpai pada aspek hulu dan hilir sistim peternakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui permasalahan, kebutuhan dan potensi pengembangan peternakan di kabupaten Tambrauw. Penelitian deskriptif dengan teknik wawancara dan observasi di Distrik Sausapor dilakukan terhadap delapan informan kunci. Pertanyaan difokuskan pada permasalahan, kebutuhan dan potensi sumberdaya alam yang dimiliki oleh peternak. Data dianalisis secara deskriptif naratif dan disajikan dalam bentuk cause-effect diagram, tabulasi dan gambar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat persoalan dasar yaitu rendahnya pelatihan, tidak adanya pos pelayanan pertanian terpadu, sumberdaya manusia pada instansi teknis yang kurang, dan minimnya data potensi sumberdaya alam. Pengembangan masyarakat pelaku usahatani peternakan menjadi sentral isu dalam hal pemberdayaan/pembinaan. Sarana dan prasarana menjadi strategis untuk dikembangkan seperti kantor pos pelayanan pertanian terpadu (P3T). Sumberdaya petugas penyuluh dan tenaga teknis seperti inseminator, dokter hewan dan tenaga paramedis diprogramkan oleh Dinas Peternakan. Pembibitan Hijauan Pakan Ternak perlu dikembangkan bersamaan dengan itu klinik pembibitan ternak menjadi rekomendasi jangka menengah.

ABSTRACT

Agricultural yields do not produce from farming yields potential yet. It is lower production, which can optimally be increased. Limiting factors are hampering off-farm and on-farm livestock farming systems. The objective of doing this research is to keen on constraints, needs and developing potency in Tambrauw regency. The finding of this research was that the regency has potency in developing livestock farming. This can be done by adapting the development of livestock farming based on the land characteristic. Community development becomes central issues in the case of community empowering. Infrastructures become strategic in further development, such as integrated agricultural service office. The local government shall prepare human resources, such as extension officers, inseminators, veterinarians, and paramedics. The community will recommend forage seeds need to be developed and veterinary clinic in the middle term period.

Keywords

kebun bibit; mini ranch; multi aksesibilitas; pelayan pertanian terpadu; integrated agricultural services; multi-accessibility; seedling farm

Article Metrics

Abstract view : 46 times
PDF view : 51 times

Full Text:

PDF

References

Asra, Abuzar, and Slamet Sutomo. 2016. Pengantar Statistika I. 1st ed. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada.

Bamualim, A. dan G. Subowo. 2005. Potensi dan Peluang Pengembangan Ternak Sapi di Lahan Perkebunan Sumatera Selatan. Lokakarya Pengembangan Sistem Integrase Kelapa Sawit-Sapi. Hal. 112-116. Puslitbang Peternakan. Kementerian Pertanian.

BPS, Tambrauw. 2017. Kabupaten Tambrauw dalam Angka Tahun 2017. ISSN / ISBN : 2302-1063. https://tambrauwkab.bps.go.id/publication.html.

Elly, F.H., B.M. Sinaga, S.U. Kuntjoro, dan N. Kusnadi. 2008. Pengembangan Usaha Ternak Sapi Rakyat Melalui Integrase Sapi-Tanaman di Sulawesi Utara. Jurnal Litbang Pertanian. 27 (2):63-68.

Fatem, S.M., dan G. Asem. 2015. Kabupaten konservasi sebagai Political Action Pemerintah Daerah dalam Mendukung Konservasi Sumberdaya Alam Hayati: Studi Kasus Kabupaten Tambrauw, Papua Barat. Pros Sem Nas Mas Biodiv Indonesia. 1 (6): 1403-1410.

Field, A,. J Miles, and Z. Field. 2012. Discovering Statistics Using R. 1st ed. London: Sage Publication Ltd.

Jafri, J., R. Febriamansyah, R. Syahni dan Asmawi. 2015. Interaksi Partisipatif Antara Penyuluh Pertanian dan Kelompok Tani Menuju Kemandirian Petani. Jurnal Agroekonomi. 33 (2): 161-177.

Manly, B.F.J., and J.A.N. Alberto. 2015. Introduction to Ecological Sampling. CRC Press Tailr & Francis Group.

Mayulu, H., Sunarso, C. I. Sutrisno, dan Sumarsono. 2010. Kebijakan pengembangan peternakan sapi potong di Indonesia. Jurnal Litbang Pertanian. 29 (1): 34-41.

Mirah, R.E., E.K.M. Endoh, J. Pandey, dan A.H.S. Salenduh. 2015. Potensi Pengembangan Ternak Sapi pada Usahatani di Kecamatan Tareran Minahasa. Jurnal Zootek. 35 (1): 46-54.

Moleong, L.J. 1991. Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya-Bandung.

Mukson, W. Roessali, dan H. Setiyawan. 2015. Analisis wilayah pengembangan Sapi potong dalam mendukung Swasembada daging di Jawa Tengah. Jurnal Peternakan Indonesia. 16 (1): 26-32.

Mustofa, A.N., D.A. Wahyuning, dan A. Muhamad. 2015. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pengambilan Keputusan Peternakan dalam Memulai Usaha Ternak Sapi Potong di Desa Kedungkumpul Kecamatan Sarirejo Kabupaten Lamongan. Jurnal Ternak. Juni. 6 (1): 1-8.

Priyanto, D., dan I. Irawan. 2008. Tantangan, Peluang dan Arahan Pengembangan Peternakan di Provinsi Papua. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner. Procedings. Hal 862-874.

Rahmanto, B. 2014. Analisis Usaha Peternakan Sapi Rakyat. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. ICASERD working paper. No. 59.

Santoso, S. 2012. Aplikasi SPSS Pada Statistik Non Parametrik. 1st ed. Gramedia. Jakarta.

Talib, C., I. Innounu, dan A. Bamualim. 2007. Restrukturisasi Peternakan Di Indonesia. Analisis Kebijakan Pertanian. 5 (1): 1-14.

Winarso, B., R. Sajuti, dan C. Muslim. 2005. Tinjauan Ekonomi Ternak Sapi Potong di Jawa Timur. Forum Penelitian Agroekonomi. 23 (1): 61-71.

Yin, R.K. 2000. Studi Kasus; Desain dan Metode. Penerbit PT. Radja Grafindo Persada. Jakarta.

Yoyo, M. Sugiarto, dan A. Priyono. 2013. Analisis Potensi Peternak dalam Pengembangan Ekonomi Usaha Kambing Lokal di Banyumas. Jurnal Ilmiah Peternakan. UNSOED. 1 (2): 619-626.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.