PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalonicum L.) PADA HIDROPONIK SISTEM DFT DENGAN KONSENTRASI NUTRISI DAN POTONG UMBI YANG BERBEDA

Lutfiah Ambar Putri, Endang Sri Wahyuni, Mawardi Mawardi

Abstract

ABSTRAK

Tahun 2019 produksi bawang merah meningkat 5,11% lebih besar dibanding tahun 2018, namun kenaikan produksi bawang merah tiap tahun secara nasional tidak berbanding lurus dengan kenaikan produksi di setiap provinsi. Hanya beberapa provinsi yang konsisten kenaikannya. Hal ini menunjukkan  ketersediaan lahan produktif di tiap daerah tidak sama. Alih fungsi lahan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin intensif yang menyebabkan semakin berkurangnya lahan produktif, di sisi lain  pemenuhan kebutuhan bawang merah harus tetap dipenuhi. Salah satu cara meningkatkan produksi bawang merah tanpa memerlukan lahan yang meluas adalah hidroponik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui konsentrasi nutrisi dan potongan umbi yang tepat terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah hidroponik sistem DFT. Penelitian ini dilaksanakan bulan Oktober - Desember 2020 di Greenhouse Fakultas Pertanian Universitas Islam Jember. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial 2 x 2 dengan 7 ulangan. Faktor pertama adalah konsentrasi nutrisi (K) terdiri dari dua  taraf perlakuan: K1: 1000 ppm (0-7 HST) 1200 ppm (8-53 HST) dan K2: 1200 ppm (0-7 HST) 1400 ppm (8-53 HST). Faktor kedua adalah besaran potongan pucuk umbi bawang (B) yang terdiri dari dua taraf perlakuan: B1: Potong pucuk 1/8 bagian dan B2: potong pucuk 1/4 bagian. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji F, dan  hasil yang berpengaruh nyata diuji lanjut dengan BNT pada taraf 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa iInteraksi perlakuan konsentrasi nutrisi dan besar potongan umbi bawang merah memberikan pengaruh yang tidak nyata pada semua parameter yang diamati. Perlakuan konsentrasi nutrisi juga tidak berpengaruh nyata pada semua paramater yang diamati. Perlakuan besar potongan umbi 1/4 bagian memberikan  tinggi tanaman yang lebih baik pada tinggi tanaman  umur 21 HST, jumlah daun yang lebih banyak pada umur 24 HST dan 36 HST, jumlah anakan yang lebih  banyak pada 32 HST, sedangkan bobot umbi bawang merah sama baiknya pada semua perlakuan pada penelitian ini.

 

ABSTRACT

In 2019 shallot production increased 5.11% greater than in 2018, but the increase in shallot production every year nationally is not directly proportional to the increase in production in each province. Only a few provinces have consistently raised it. This shows that the availability of productive land in each region is not the same. The conversion of land functions in Indonesia from year to year is getting more intensive which causes less and less productive land, on the other hand the fulfillment of shallot needs must still be fulfilled. One way to increase shallot production without requiring expanded land is hydroponics. This study aims to determine the concentration of nutrients and the right tuber cut on the growth and production of hydroponic shallots using the DFT system. This research was carried out from October to December 2020 at the Greenhouse of the Faculty of Agriculture, Islamic University of Jember. The study was conducted using a 2 x 2 factorial Completely Randomized Design (CRD) with 7 replications. The first factor is nutrient concentration (K) consisting of two treatment levels: K1: 1000 ppm (0-7 HST) 1200 ppm (8-53 HST) and K2: 1200 ppm (0-7 HST) 1400 ppm (8-53 HST ). The second factor was the amount of onion shoot cut (B) which consisted of two treatment levels: B1: Cut 1/8 of the top and B2: Cut 1/4 of the top. The data obtained were then analyzed with the F test, and the results that had a significant effect were further tested with LSD at the 0.05 level. The results showed that the interaction between nutrient concentration disturbance and large pieces of shallot bulbs had no significant effect on all observed parameters. Treatment of nutrient concentrations also did not significantly affect all parameters observed. Treatment of large 1/4 tuber pieces gave better plant height at plant height at 21 HST, more number of leaves at 24 HST and 36 HST, higher number of tillers at 32 HST, while shallot bulb weight was just as good in all treatments in this study.

Keywords

nutrisi, potongan umbi, hidroponik DFT, bawang merah, nutrition, cutting tubers, DFT hydroponics, shallots

Article Metrics

Abstract view : 59 times
PDF view : 21 times

Full Text:

PDF

References

Anonim. 2020. Produksi Bawang Merah Menurut Provinsi. (https://www.pertanian.go.id/home/index.php?show=repo&fileNum=286. diakses 17 Pebruari 2021.

Darmawan, J. dan J. S. Baharsjah. 2010. Dasar-dasar Fisiologi Tanaman. SITC. P 42-43. Jakarta.

Dewi, P dan Arifin. 2019. Pengaruh Naungan dan Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium ascolanicum L.) pada Sistem Budidaya Hidroponik. Jurnal Produksi Tanaman. 7 (3): 511-517.

Mubarok, S., A. R. Al Adawiyah., A. Rosmala., F. Rufaidah., A. Nuraini dan E. Suminar. 2020. Hormon Etilen dan Auksin serta Kaitannya dalam Pembentukan Tomat Tahan Simpan dan Tanpa Biji. Jurnal Kultivasi. 19 (3): 1217-1222.

Nurhidayah., N. R. Sennang dan A. Dachlan. 2016. Pertumbuhan dan Produksi Bawang Merah (Allium ascalonicum L.) pada Berbagai Perlakuan Berat Umbi dan Pemotongan Umbi. Jurnal Agrotan. 2 (1): 84-97.

Pohan, S. A. dan Oktoyournal. 2019. Pengaruh Konsentrasi Nutrisi A-B Mix Terhadap Pertumbuhan Caisim Secara Hidroponik (Drip System). Jurnal Penelitian Pertanian Politeknik Pertanian Negri Payakumbuh. 18 (1): 20-32.

Purba, S., Ansoruddin dan L. Batubara. 2018. Pengaruh Pemotongan Umbi Dan Kerapatan Tanam Terhadap Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Bawang Merah (Allium ascalonicum L.). Agricultural Research Journal. 14 (2): 77-88.

Wahyuni, E. S. 2017. Pengaruh Konsentrasi Nutrisi Hidroponik DFT terhadap Pertumbuhan Sayuran Sawi. Jurnal Bioshell. 6 (1): 333-339.

Wibowo. 2005. Budidaya Bawang Putih, Bawang Merah dan Bawang Bombay. Penebar Swadaya. Jakarta.

Refbacks

  • There are currently no refbacks.